Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
0

Darling Harbour

Posted by hari_arch on 19.46 in
Sore itu aku sedang mempersiapkan beberapa ransel kecil berisi beberapa baju hangat dan peralatan menulis serta sebuah kamera kesayanganku. Hari itu awal liburan semester berlangsung beberapa pekan ke depan.  Ini adalah liburan semester pertama ku  di Australia, yang berbeda dari kampungku di pinggiran kota Jakarta,  Aku mendapat beasiswa double degree arsitek di Deakin Melbourne University di Burwood. Kampus ini banyak dipuji karena gaya arsitekturnya yang modern.  “ Awas jangan sampe nyasar ya dre”, sahut temen aq , Rudi dari balik pintu kamar mandi , Aku dan Rudi kebetulan satu dormitory, dia mahasiswa psikologi . “Andai paper aku udah selese, bakal aku temenin kamu ndre. “tambahnya..”Ah,gampang ..nyasar kan bisa tanya orang” jawabku tanpa pikir panjang.
            Aku berjalan menuruni tangga dari lantai 4, tak kulihat keramaian  mahasiswa seperti hari biasanya di lorong ataupun di aula asrama, Ya..tentunya mereka semua pulang ke rumah orang tua mereka. Aku juga rindu dengan keluarga aku nan jauh di sana, tapi mahasiswa seperti diriku yang hanya mengandalkan hidup dari beasiswa tidaklah bisa membeli tiket yang demikian mahalnya.
            Langkahku berhenti di halte tram, tidak lama berselang tram yang akan mengantarkan aku ke stasiun sudah datang. Dan jauhnya kira-kira 40 menit dengan tram dari pusat kota yang berdekatan dengan Flinder station.
Setibanya di Flinder Station aku berjalan menuju loket yang akan membawaku ke kota Sydney, jantung benua Australia. Sebelumnya aku sudah browsing di internet mengenai jadwal keberangkatan kereta istilahnya Country link . Yup tiket sudah kudapat.  Aq menuju sudut ruangan yang membawaku pada ruang tunggu , sambil memeriksa semua perbekalan aku, masih ada waktu 20 menit lagi
Sepertinya cacing diperutku lagi protes, maklum dari tadi pagi aku belum makan siang. Aku berjalan, mangawasi sekeliling sejauh mata memandang ada beberapa tempat makan, pastinya harga makanan di sini mahal, bisiku dalam hati, aha,,,pandanganku berhenti pada 1 tempat..yup, Hungry Jack, semacam KFC di Indonesia, sesuai dengan isi dompet aku. Kubeli beberapa sanwich
Kereta sudah datang, sambil terburu-buru menggengam sisa makanan, aku berjalan menuju pintu masuk. Sepertinya hari ini akan banyak orang yang akan berlibur ke Sydney, Namun tiba-tiba aku seperti terdorong ke depan, seseorang menabrak punggungku, hingga menjatuhkan sisa makananku” sorry” cuma itu kata yang terucap olehnya. Gadis itu seolah menghilang ditengah kerumunan penumpang kereta.
Aku menyusuri lorong kereta yang sedang melaju cepat untuk mencari bangku kosong. Ketika aku berjalan kudapati seseorang gadis yang tadi menabrakku, sekilas senyum tersungging di wajahnya, seolah mau meyapa aku.  2 orang paruh baya disampingnya sepertinya dia bepergian dengan orangtunya tetapi aku terus berjalan mencari no kursi ku
Ku rebahkan tubuhku setelah kudapati kursi sesuai nomer tiket. Mataku tak henti hentinya memandang dari kejauhan pemandangan, disuguhi pemandangan beragam, mulai dari jalanan berkelok pinggir danau dengan latar belakang bukit batu, bunga-bunga liar di tepi jalan, hamparan peternakan domba, sapi dan kuda, jalan sempit di antara gunung dan lembah serta jalan di antara hutan yang seakan kehilangan rimbun daunnya menyambut musin dingin tiba.  Lamunan ku membawaku terpejam beberapa waktu kemudian, perjalanan ini memakan waktu 8 jam. Jarak Melbourne ke Sydney sekitar 876 km.  
            Deru kereta membuatku tertidur lelap, aku pun terbangun dipagi buta. Wah sampai mana ini, pikirku dalam hati, beberapa menit kemudian..” Next station…Central Railway Station…” suara yang muncul setiap kali mendekati stasiun, aku harus bersiap udah hampir sampai. Kereta Countrylink berhenti di Platform 1, Central Station, Sydney
            Pagi sekali kereta sampai, aku langsung keluar stasiun, mencari cari taxi yang akan mengantarku ke daerah King Cross, penginapan kelas backpaker yaitu Boomerang Backpackers , daerah dimana banyak cafe, bar, dan hiburan malam
            Sydney, Juli – musim dingin, mentari pagi cukup hangat walau cuaca di perkirakan bersuhu 10-12 C, walau aku memakai jaket hingga 2 lapis begitu ada angin menerpa muka, langsung saja aku merinding kedinginan. Sydney merupakan salah satu kota paling multikultural di dunia, yang tercermin dari perannya sebagai kota tujuan utama bagi imigran ke Australia. Kota ini adalah kota pusat seni-budaya nya Australia. Kafe-kafe bertebaran sepanjang jalan yang ditata apik
Pagi itu setelah menaruh tas bawaan aku di penginapan, aku mengunjungi Central Bisnis District . Aq berjalan menyusuri pinggiran taman, Royal Botanical garden ini letaknya di sebelah timur  Sydney Opera House. Aku bersandar pada sebuah pohon, lalu ku rebahkan punggungku, kulihat disisi lain deretan pepohonan ciptaan kaum modern, ya itulah skyline kota Sydney yang menjadi jantung benua kanguru, berdiri menjulang tower Sydney diantara yang lainnnya. Disisi lain terlihat Harbour bridge yang terkenal itu. Akupun terus mengarahkan pandangan mataku sejauh mungkin mengitari botanical garden ini, Disini saat pagi banyak orang beraktifitas berolah raga, apalagi akhir pekan seperti saat ini, beberapa kawula muda berkumpul disini, hanya sekedar bercanda ria dengan kawan mereka, sembari menikmati taman kota, Penduduknya biasa disebut Sydneysiders, dan Sydney dijuluki sebagai "the Harbour City" (Kota Dermaga).  Tiba2 mataku terhenti pada satu bayangan yang sepertinya tak asing bagiku. Gadis itu bersandar pada bangku kayu sembari asyik membaca buku. Ya..itu dia..pasti gak salah…gadis itu tadi, Lantas kenapa gadis itu sendirian disini, ingin rasanya aku hampiri dia, hanya sebatas menyapa nya, Berharap mendapati segores senyuman diwajah cantiknya. sepertinya aku tersihir olehnya. Ku keluarkan peralatan yang biasanya aq pakai buat mensketsa ketika aku kuliah, namun kali ini aku tidak akan menggoreskan pensilku menggambarkan perspektif bangunan seperti biasanya. Seperti air mengalir, mendapati sesuatu yang mempesona di hadapan mata, ya..aku melukisnya..mengaguminya..meski cuma dari kejauhan, tapi aku menikmatinya. Aku pun terhanyut dalam lamunan, memejamkan mata dan mulai berandai –andai yang melambungkan angan-anganku. 
Tiba-tiba aku tersadar kembali ketika seseorang menepuk pundakku, mengembalikan kesadaranku. “ sepertinya gambarnya menarik, boleh aku lihat” kata-kata  itu mengembalikan kesadaranku. Sesosok wajah nan rupawan tepat berada menatapku, aku langsung kaget dibuatnya, “E..e Cuma coretan aja”  buru-buru aku masukkan kertas itu ke dalam tas, seolah aku tak mau ketahuan klo aku mengabadikan keindahannya dalam lukisanku. “ Kamu sepertinya mahasiswa dari Indonesia ya, kamu kan tadi yang aku tabrak di stasiun” aku masih terdiam tak bisa berucap, antara kaget dan menikmati raut wajahnya yang menawan. “ Eh iya, maaf ya tadi” Cuma kata-kata  itu yang terucap dari mulutku”, sekilas senyuman yang aku nanti menghiasi wajahnya yang menawan. “ Namaku Alin” kehangatan menjabat tanganku. “ namaku Andre, mahasiswa Deikin Melbourne“ dan percakapan kami terus mengalir begitu saja.
            Kita berjalan menyusuri daerah Circulay Quay, dari sini kita bisa melihat pemandangan 2 icon kota sydney yaitu Sydney opera house dan Harbour bridge. Kemana dia berjalan,  aku mengikuti nya, meski jauh melangkah, seolah dia mau tetap terus berjalan, Tak terasa kita sudah berada Darling Harbour.  Aku bisa melihat yatch dengan berbagai ukuran dan model yang diparkir.  Kita juga disuguhi pemandangan bangunan-bangunan di tepi harbour, dengan dermaga di depannya
            Termaram lampu mulai menyala, di ufuk barat sana langit merah jingga.  Sepertinya dia kelelahan, dia nyandarkan kepalanya di pundakku ketika kami duduk “ Kamu kecapekan ya, aku antar pulang ya, pasti orang tuamu mencarimu,’ dia diam saja, sepertinya dia menikmati pesona langit sore serta gemerlap lampu kota yang yang indah ketika sore menjelang, lampu gemerlap gedung –gedung tinggi yang memantul di sungai terbesar di sydney . Makin sore semakin ramai saja, “ Langitnya indah ya, aku masih ingin berlama-lama disini, aku takut besok aku tak akan melihat ini semua”, ucapnya lirih. “maksudmu apa?” tanyaku keheranan. “Sejak kecil aku gak diijinkan keluar rumah, aku jarang punya teman, tiap 2 minggu sekali aku harus menjalani cuci darah, dan 3 hari lagi aku akan  menjalani operasi, kata dokter bulan ini ada donor yang mungkin  cocok buatku”. ”Apa?kamu ternyata sakit, duh bodohnya aku membiarkan kamu tadi berjalan terus, pasti aku akan dimarahi oleh orangtuamu’ akupun bingung dibuatnya, namun dia hanya membalas senyuman, senyum itu, ya senyum itu adalah kekuatan terbesar dalam dirinya, tanpa disadari dia berjuang mempertahankan hidupnya. Terbesit rasa kasian padanya. Tak bisa aku bayangkan dia harus menjalani terapi dan obat-obatan demi memperpanjang masa hidupnya.
 “sory sir, could you take a picture for us” pintaku kepada pemuda yang berjalan didepan ku untuk mengabadikan pertemuan kita di Darling Harbour.
“ taukah kamu,  ini hari apa?” Tanya dia padaku, tanpa memberikan kesempatan buatku menjawab, dia berkata” hari ini tepat 23 tahun umurku”
‘wah kamu ultah ya, selamat ya”kataku sumringah menyembunyikan kesedihanku mendengar ceritanya tadi, “Maukah kau memberikan kado untukku, mungkin itu akan menjadi kado terindah buatku’
“wah maaf, aq gak punya apa-apa, gimana ya” aku pun bingung berpikir entah apa yang akan kuberikan padanya. “ Aku tau, kamu tadi melukis apa, bolehkah lukisan itu buatku” desaknya memohon memelas padaku, matanya penuh harap, senyumnya mampu menggoyahkan pikiranku. “kenapa harus malu, kamu pandai melukis ya, pantas aja jadi arsitek, haha..” tawanya seolah mencairkan suasana. Sambil menyembunyikan wajahku yang tersipu malu, tanpa berkata sepatah katapun, aku ambil kertas tadi dari dalam tas, kuserahkan padanya. “ Bagus ya, aku suka” didekapnya gambar itu di dadanya, seolah itu hadiah teristiwewa buat nya. Akupun tersenyum puas, bisa melihatnya bahagia. malam itu kami habiskan Cuma menatap langit dan gemerlap kemewahan kota Sydney. Hingga waktu menunjukkan pukul 20.00 aku mengantarkan dia pulang
            Aku mengantarkan sampai  gerbang hotel dia menginap The Strand Hotel , bapak ibunya menyambut kedatangannya, Tanpa ada raut kemarahan karena aq telah membawanya jalan-jalan hingga malam. ”Terimakasih ya nak, sudah menemani anak kami.” sebelum berpisah aq meminta no hp yang bisa dihubungi. Dan  taxipun meluncur kembali tak jauh menuju penginapanku di King Cross
...Deakin Melbourne Dormitory
3 hari berselang, belum  ada kabar darinya, meski aku sudah mengirim pesan singkat untuknya. Ya Tuhan semoga operasinya sukses. Aku menunggu penuh harap. Hari-hariku aku habiskan untuk menyelesaikan riset dari dosenku, karena awal masuk kuliah harus selesai sudah. 2 hari kemudian tiba-tiba hp ku berdering, sepertinya ada telepon masuk dari nomer yang aku kenal, ya tidak salah..itu dari nomer Alin. Mungkin dia sudah sembuh, operasinya berhasil. Ya itu pasti. Saat aq angkat hening sejenak..tak kudapati suara..yang ada malah sesenggukan tangis..hallo…hallo..namun tak ada jawaban..selang berlalu…suara sayu dari wanita menjawab keingintahuanku….Andre..makasih udah menemani Alin…dia sangat senang sekali…sekarang dia udah tenang…” sesenggukan tangis pecah lagi mengisi keheningan dari telepon itu ..”maksudnya apa bu, saya tidak mengerti…”semakin penasaran dibuatnya, jantungku tak karuan, keringat dingin menyergap tubuhku…”Alin sudah meninggalkan kita semua…”seketika seluruh tubuhku lemas seolah tak bertulang..kabar itu mengagetkanku..aq terkulai keranjang tidurku…Aline….
            Aku mengambil foto saat bersamanya, Ya...Darling Harbour...kudekap foto itu dengan menahan isak tangis, masih teringat jelas senyum itu..selamat tinggal Alin...terimakasih atas perjumpaan indah yang singkat ini...

0

SURAT DARI IBU

Posted by hari_arch on 19.43 in
Disudut rumah tua peninggalan suami, seorang ibu duduk disudut kursi kayu, menatap jalanan yang mulai sepi lalu lalang kendaraan, seakan dia menanti seseorang yang akan datang. “ Buk, masuk dulu, gak baik kena angin malam”, ucap fitri yang masih duduk dibangku kelas 2 SMA.
“ Bu, ini fitri siapkan makan malam, yuk makan dulu buk” disela kesibukan menyiapkan meja makan. Tak ada jawaban juga dari sang ibu yang masih duduk termenung di teras rumah. “Sudah hampir 3 bulan kakakmu gak pulang” ucap ibu sambil membenahi sweeter woolnya. “ Udah aku sms bu, telpon pun gak diangkat, dia selalu bilang, belum sempet, mungkin dia sibuk bu, dinas di luar kota” sahut fitri menghampiri ibunya. “ oh ya fit, surat yang ibu buat kemaren untuk kakamu sudah kamu kirim?”
“ sudah buk, ayo makan dulu” fitri merangkul ibu masuk kedalam, mengajaknya makan.
“ jangan bilang pada kakamu klo ibu lagi sakit, memang sudah wajar umur ibu menjadi lemah, ibu tak ingin menambahi beban pikiran kakamu” ucap ibu disela sendokan pertama. “ Bu, besok firti antar ke dokter ya, sekalian ke apotik obat asma ibu sudah habis” lirih kata fitri sambil menuangkan air ke gelas buat ibu.
                Sementara Adi beberapa bulan ini disibukkan dengan persiapan presentasi, meeting, surve ke proyek, dia bekerja disebuah perusahaan kontraktor, dia dipercaya memegang proyek pembangunan apartemen di kota Jakarta. kesehariannya disibukkan dengan rutinitas keluar masuk proyek
“ Pak kemaren ada surat buat pak Adi, dan ini dokumen yang harus ditandatangani” ucap sekretaris. “ Taruh saja seperti biasa di meja saya, masih banyak dokumen proyek yang belum saya tanda tangani juga”. Adipun menuju ruangan tempat kerjanya, melihat tumpukan berkas gambar yang harus dia lihat. disela dia duduk menatap laptop kecilnya, jari-jarinya mengetik tombol-di hp yang dia keluarkan dari saku celananya. “ Mi, gimana si Tomi tadi berangkat ke sekolah naek apa, maaf papi tadi berangkat lebih pagi dari biasanya, gak sempet mengantarnya” dari seberang sana terdengar omelan istrinya yang juga sedang sibuk bekerja sebagai make up artis, kadang istrinya bekerja sampai larit malam, anak yang masih duduk di kelas 2 sd terpaksa ditemani bik inah, pembantu rumah mereka.
Tak berapa lama kemudian dia tutup teleponnya, dia hela nafas panjang , seakan banyak beban dalam keluarganya, sesekali dia melihat tumpukan kertas yang sudah menggunung, pandangannya mengitari sampai sudut ruang kerjanya.
Ketika dia merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja dan lemarinya, tiba-tiba  pandangannya terhenti pada satu amplop coklat, amplop dari luar ditulis dengan tangan, sepertinya dia mengenal tulisan itu, ya tidak asing lagi, dia membalik amplop itu, dan benar..itu surat dari keluarganya di kampung sana, sudah lama tak tahu kabar ibu dan adik di kampung,” kesibukanku membuat aku lupa pada mereka di kampung, huft..udah berapa bulan ya aq gak kirim kabar n pulang ke rumah” dia mulai mengingat ingat kapan ia terakhir menjenguk ibunya,setiap kali dihubungi sms dia selalu membalas lagi sibuk proyek, belum sempet pulang  Ternyata amplop itu tak hanya satu, masih ada 3 sampai 4 amplop berwarna coklat yang sama dengan tulisan yang sama. “ Ini surat sejak kapan, kok aq tidak meyadarinya” pikirnya sejenak, dia membuka satu persatu amplop itu. disalah satu amplop itu yang ia buka :
Untuk yang terkasih ananda nan jauh disana
ibu baik-baik saja…
ibu tidak menginginkan apa apa…
ibu senang melihat ananda bahagia…
tumbuh dewasa dan berkeluarga…
ananda sudah lama tak pulang…
apakah  ananda baik-baik saja…
ibu teringat ananda terus…
ibu kangen…
setiap pagi menyiapkan makanan, berharap ananda pulang menjenguk sesekali…
menunggumu  hingga larut malam …
ibu cemas…
ananda jauh…
ibu tidak bisa berada di sisi ananda ketika ananda sakit, seperti yang ibu lakukan ketika ananda kecil, dan  ibu terjaga hingga larut malam…
menyelimuti tubuhmu ketika malam yang dingin…
mengusap lembut kepalamu hingga kamu tertidur…
ibu kangen…
peluk cium  bunda sayang
Tak terasa air matanya menetesi kertas itu, saat itu juga ada 1 pesan masuk, sms itu dari fitri, adiknya, mas..ibu masuk rumah sakit, mohon mas pulang. Kata-kata itu menjadi pukulan berat baginya, dia tidak pernah memikirkan keadaan ibunya, tidak pernah menanyakan kesehatannya, jarang pulang. dan sekarang masuk rumah sakit. Tanpa berpikr panjang dia meminta bantuan sekretasris untuk mencarikan tiket pesawat pulang ke Surabaya, hari ini juga.
Beberapa menit kemudian, “ Maaf pak adi, semua tiket pesawat sudah habis terjual untuk hari ini, karena besok libur tanggal merah, ada tapi besok pagi pak?’ adi tidak bisa berpikir lagi, yang ada dipikirannya adalah ibunya, dan ibunya…” ya dah besok pesankan untuk pesawat paling pagi”
Paginya ia bergegas ke bandara sambil melajukan dengan kencang mobil nya.
Cengakareng-Juanda 1 jam perjalanan udara
Sesampainya di bandara juanda dia langsung menuju terminal bus, karena kampung halamannya di Lumajang, maka baru 6 jam lagi dia akan sampai di kampungnya…
Sesampainya di rumah sakit, dia berlari menuju ruangan dimana ibunya dirawat
“ fit, gmn keadaan ibu” fitri merangkul kakaknya…sambil menahan tangis yang tak henti-hentinya, “ jam 10 tadi pagi ibu menghembus kan nafas untuk yang terakhir kalinya..ibu meninggalkan kita selama-lamanya..” isak tangispun pecah seketika ruangan yang hening dan sepi. Tak kuasa Adi menahan luapan perasaannya, bahkan dia tak ada disaat akhir hayat ibunya, dia terkulai lemas…
kepergian ibu pukulan berat baginya
adi  masih merenung seorang diri dalam kamar ibunya,
Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya…
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya…
Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kedatangannya…
Tak ada lagi senyuman indah ...
Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untuk makan…
      Tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata dalam
      disetiap hembusan nafasnya…
Ibu …maafkan aku …

0

KERETA SENJA

Posted by hari_arch on 19.37 in
KERETA SENJA
      Sore itu Tomi hanya duduk termangu menatap rintik hujan dari balik jendela kaca, sementara kereta terus melaju meninggalkan stasiun. Lamunannya mengembalikan kesadarannya tentang peristiwa semalam.  “ Tinggalah di kampung bersama ibu, bantu ibu menjaga ke 2 adikmu” pinta ibu pada Tomi. “ Kamu kan bisa kerja di kelurahan, nanti ibu minta pak lurah agar kamu bisa bantu bantu tugas disana, sambil bantu ibu di sawah” bujuk ibu padanya. “ Enggak bu, Tomi harus merantau ke Jakarta” ucap Tomi yang bersikeras sambil meninggalkan meja makan dan kemudian mengunci diri dalam kamar.
      Lamunannya beberapa kali tersadarkan ketika kereta berhenti di beberapa stasiun, dan ia mengamati lalu lalang orang yang menjajakan jualan dari balik jendela. Sementara diluar hujan semakin deras, hari semakin gelap. Dia teringat pada Aisyah, anak pensiunan tentara. “ Mas, untuk apa kamu ke Jakarta, sementara kamu gak punya saudara disana, Jakarta itu luas mas, aq tidak tega melihatmu klo terjadi apa-apa sama kmu” bujuk Aisyah sambil menaruh segelas the  hangat di meja. “ Aku malu dik, aku malu pada bapakmu, aku malu pada orang sekampung, mas ini lulusan S1, tapi jadi pengannguran, coba kamu pahami aku, aku yakin aku akan dapat pekerjaan disana, dan membawa banyak duit agar bisa menikahimu”, Tomipun menggenggam tangan Aisyah meyakinkan dia. Dari balik pintu kamar terdengar langkah sesosok paruh baya yang sangat dia hormati, “ Bener kata Tomi, ngapain kamu mencegah kepergiannya, biarkan saja, wong sarjana kok nganggur” kata2 bapaknya yang trakir itu amatlah menusuk hati Tomi, selama ini memang hubungan mereka gak pernah disetujui oleh ayahnya Aisyah. “ Wong kmu lho masih muda nduk, masih banyak pemuda desa yang kaya yang mau sama kamu” ucap ayah dengan meyakin kan Aisyah. “ Bapak, kok bapak ngomongnya gitu, gak kasian apa sama mas Tomi, bukannya menghibur malah menjadikan aku dijodoh-jodohkan, kayak jamannya bapak aja, kuno” ucap Aisyah membela Tomi. “ He nduk, jangan sekali-kali melawan orang tua ya, durhaka” tegas ayahnya tak suka anaknya berani menyanggah , kata Aisyah seakan melawan bapaknya. “Aisyah benci ama bapak, benci” dia pun menangis menuju kamarnya dan membanting pintu kamar dengan keras,” Tuh belum jadi istrimu saja, anaku udah berani melawan orang tuanya, gimana nanti klo menikah denganmu, rusak rumah tangganya” seraya memelototi Tomi yang duduk menunduk, dia semakin terpojokkan keadannya. antara  marah dan sedih, bercampur jadi satu, tapi itu semua dia tahan, jangan sampai malah membuat keadaan semakin memanas. “ Bapak karo anak podo ae watake” kata-kata  ayahnya Aisyah menyulut amarah Tomi yang dari tadi ditahannya demi menghormati orang yang lebih tua, tapi untuk kali ini tidak, tidak untuk seseorang,  siapapun itu yang telah merendahkan derajat orang tuanya, tangannya menengepal geram, denyut jantungnya semakin cepat. Seperti gunung yang akan siap memuntahkan magmanya, seperti itu gambaran amarah yang masih dapat iya tahan. “ Pak, bapak boleh menghina-hina saya, bapak boleh merendahkan derajat saya, tapi tidak untuk almarhum ayah yang sudah membesarkan saya, camkan itu pak” dia pun beranjak berdiri. “ ok, saya akan buktikan bahwa saya tidak seperti yang bapak katakan” mukanya mulai menunjukkan rasa kesal tak terkira
“ Halah, anak ingusan sepertimu mau jadi apa, ha..” ucapnya sambil tertawa cekikikan sambiil menunjuk nunjuk muka Tomi, sementara tangan yang laen berkacak pingang. Dengan cepat sekelebat bayangan muncul bersimpuh di hadapan ayah Aisyah, “udah lah pak, jangan bertengkar mulut, gak enak sama tetangga, mas Tomi, sebaiknyya kamu pulang saja, sebelum amarah bapak meledak-ledak” ucap Aisyah sambil menangis tersedu-sedu.

“ Pak, mau pakai selimut?” tiba2 seorang petugas kereta api mengembalikan lamunan tomi. “ Ah gak perlu pak, saya bawa jaket” ucap Tomi sambil merapikan tasnya yang ia pangku dari tadi. Semakin larut malam, udara semakin dingin, begitu pula hati Tomi, sedingin hujan di luar sana. Tomipun tidak tahu harus kemana setelah nanti di Jakarta. Cuma sebuah alamat yang dia tahu, alamat seorang temen SMA nya dulu yang sekarang bekerja di bengkel. kereta terus melaju, timbul dan tenggelam Tomi berulanmg kali teringat ibu dan ke 2 adik yang dia tinggalkan di rumah, sebenernya dia tidak tega meninggalkan keluarga yang dia sayangi, apalagi setelah sepeninggalnya ayah yang menjadi tulang punggung keluarga. “ Ayah bangga pada kamu, pasti temen-temen ayah akan banyak memuji ayah, karena telah berhasil menyekolahkan anaknya di kampus ternama di negri ini” kata2 itu terus terngiang2 di kepalanya. Seolah menjadi beban tersendiri buat Tomi, menjadi anak sulung dan harus menjadi tulang punggung keluarga. “ Ayah mau kamu berjanji 1 hal, jaga ibu dan adik-adikmu, “ itu kata kata terakhir yang Tomi ingat, maaf yah, untuk yang satu ini Tomi gak bisa menepati janji, Tomi harus tetap pergi ke Jakarta. Rasa bersalah, rindu, marah bercampur jadi satu, kereta pun terus melaju menembus kegelapan malam, sesekali bunyi klakson panjang bertiup dari lokomotif yang membawa 8 gerbong menempuh jarak 350 km.

Copyright © 2009 corat coret All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.